Kamis, 07 September 2017

Sajak siang .1

Langkah mulai gontai tatkala sinar perlahan padam
Mencoba tetap berjalan walau gelap menghantui
Hanya secuil keyakinan yang mampu menopang
Untuk tetap terus menapaki jejak di ibu pertiwi

Kini kuterdiam disisi aspal hanya untuk berpikir sejenak
Tatapan kosong makin liar tanpa peduli lalu lalang kehidupan
Mencoba bernapas walau sesak menghujam dada
Inilah hidupku saat ini yang berada diujung jurang putus asa

Tuhan...
Doaku saat ini hanyalah meminta pertolonganmu
Agar jiwa ini tetap tegar hadapi deru kehidupan
Kutak ingin menjadi arang yang patah
Demi melihat senyum indah malaikat kecilku

Tuhan...
Ulurkan tanganmu sebelum raga ini terjatuh
Terperosok kedalam jurang putus asa
Demi cinta yang masih tersimpan di hati
Yang coba kujaga walau badai terus menghantam

Singaraja, 07/09/2017

Sajak pagi . 1

Mentari mulai menyapa seiring teriakan sang jago
Kehangatan pun hadir cairkan kebekuan
Tarian penguasa langit kembali terlihat
Menutupi warna jingga di ufuk timur cakrawala

Riuh alam raya pun mulai memekakkan telinga
Seiring berputarnya roda sang waktu
Wangi napas dewi angin ikut menyesakkan
Membawa aroma tubuh ibu pertiwi yang renta

Aku yang menikmati ini semua hanya terdiam terpaku
Kala segaris senyum indah mulai menggurat dibenak
Membentuk pahatan maha karya Illahi
Atas paras sesosok bidadari yang diciptakanNya

Aku Terkagum
Aku Terpesona
Aku Terbuai
Hingga aku terperosok atas jebakan parasnya

Kini dengan berteman kabut kafein
Kunikmati pagi ini walau mata belum terpejam sepanjang malam
Karena jiwa yang takut kehilangan
Atas cinta dari sang bidadari hati

Wahai sosok yang kucintai
Kuucapkan selamat pagi teruntukmu
Seiring napas yang melantunkan rindu
Atas hadirmu kala diri ini bersamamu

Cinta....
Love and miss you

Singaraja, 07/09/2017

Minggu, 13 Agustus 2017

Secret admire

Suasana senja dengan hamparan sang  ufuk yang makin memerah di salah satu sudut kota,  menciptakan kesyahduan di benak para pemburu deru kehidupan.  Peluh serta dahaga mulai merayap merasuki ragaku tanpa permisi.  Bermesraan dengan mesin percetakan selama hampir 9 jam tanpa kusadari membuat tubuhku kehilangan pancaran sinar ketampanan yang dianugerahkan Sang Pencipta padaku.

Aku yang sedang melekatkan punggung jenjang kurusku ke bantal beton  berwarna putih tepat di samping etalase kaca dengan tatanan perlengkapan sekolahnya.  Padatnya lalu lalang sang mesin pengejar mimpi  membuatku terbuai dalam lamunan imaji. 

Klik.. Klik... Klik.....
Suara jentikan jari lentik tepat di depan kedua bola  mataku yang sontak membuyarkan imajiku yang sedang melalang Buana di hamparan Padang pasir panas tanpa oase. 

" mas bro,  buruan help me! Ini di fotokopi jadi 30 lembar dan dijadikan satu buku ya.  Gak pakai lama. " suara ketus namun penuh keriangan yang terpantul dalam gendang telingaku. 

" oh, anak pak RT! gangguin orang lagi melamun saja! "
" Lagian,  manis-manis gini jutek amat ngomongnya. " sahutku sambil beranjak menyahut kertas yang diberikan gadis manis berambut copper blonde ala artis korea itu. 

" Sapa yang jutek?  Ngapain pula aku musti manja dan berbicara manis disini.  Pacar bukan?  Selingkuhan apalagi? Males banget! " ucapnya dengan gaya cuek namun membuatku makin penasaran.
" Loh, pripun mbak iki.  Apa aku ajak bapak ibuku main ke rumah mbak? " tukasku sambil senyum malu. 

Candaan diantara aku dan Maria tak terhenti hingga kuselesaikan semua pekerjaan yang ada.  Tak jarang aku mengakhirkan pesanan dia agar bisa bercanda dan bisa mendekati dia.  Maria adalah gadis cantik dengan perawakan bak seorang model,  caranya berjalan seolah melihat Putri kecantikan melintas diatas catwalk  . Senyum riang yang selalu ditampakkan sungguh mampu menghipnotis pria yang berpapasan dengannya .

Bahkan tak jarang kulihat dia digoda oleh customer di percetakan tempatku bekerja. Namun keramahannya tetap membuatku sulit merengkuhnya.  Sosoknya yang ramah namun cukup cuek membuat siapapun harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sedikit saja perhatiannya. Rayuan gombal sekelas candaan Denny cagur,  Andre stinky atau raffi Ahmad pun tak membuatnya tersentuh. 

Pernah sesekali kulontarkan rayuan tersebut malah membuatku malu sendiri.
" Bapak kamu pelukis yach? " keusilanku kala ingin menggodanya.
" hallah....Basi.... Pasti jawabnya karena kamu telah melukis hatiku dengan Taman cintamu. " sahutnya sambil senyum nyiyir.

Aku pun memutar otak agar itu  tampak nyata.
" kali ini serius  kok.  Bapak kamu ketua Rt kan? " tanya sambil memotong sisa jilidan buku yang kurang rapi.
".  Nah ini nih,  aku penasaran lanjutnya. Tapi paling mau dijawab : Terus gue musti bilang wow gitu. " sahutnya sambil tersenyum namun sedikit memalingkan wajahnya karena tersipu malu. 

" Enggaklah.  Mau bilang karena kamu sudah menyetempel hatiku. " kuucapkan tepat didepan matanya dengan jarak yang terpisah oleh etalase kaca Selebar 60cm.
" hahahahahhaha.... Ini nih baru asyik,  realistis. " reaksinya kala mendengar ucapanku. 

Sambil tak henti hentinya dia tertawa lepas,  kutatap dia yang berlalu pergi meninggalkanku setelah kuserahkan pesanannya. 
Itu adalah tawa lepas yang terpancar dari sorot matanya selama 1 tahun terakhir aku melihatnya. Aku tak tahu kenapa dia memendam rasa sedih,  meski fia selalu tersenyum ramah dan ekspresi riang.  Akan nampak sorot mata kesedihan yang mendalam bila diamati lebih detil. Lebih tepatnya satu tahun lalu aku melihatnya dan saat dia ada keperluan di tempatku bekerja tak jarang kulihat dia sering melamun.  Sejak hari itu , aku berusaha mengajak dia ngobrol dan bercanda sembari menanti pesanannya selesai. 

Meski sudah tak terpaku lagi dan bisa bersosialisasi namun masih tersisa kesedihan yang tak pernah dia ungkapkan.  Aku pun penasaran dan bertanya ke rekan dan bosku yang ornag asli situ.  Dan kuketahui bahwa dia baru pulang dari kerja diluar kota sehingga mungkin terasa asing dengan kampungnya sendiri dan sepertinya hatinya telah dihancurkan oleh seseorang saat dia berada di luar kota. 

Suatu hari kuberanikan diri untuk datang kerumahnya,  bangunan kokoh sepanjang 10 meter membentang di tepi jalan dengan tinggi pagar besi sepanjang 3x3 meter membuatku sedikit goyah dan merinding.  Siapalah diri ini yang sebatas karyawan di sebuah tempat percetakan kecil di sudut kota pendidikan yang dipenuh ribuan mahasiswa yang mengejar gelar. 

Namun rasa yang sudah merasukiku selama 1 tahun membuatku tak gentar sedikitpun.  Kujejalkan langkah di setiap anak tangga menuju rumahnya yang memang sedikit lebih tinggi 1 meter diatas jalan Raya.
" Ting tung..... Assalamualaikum " suara bel otomatis yang menggunakan sensor gerak itu mengagetkan jantungku yang sedang berdegup karena ketakutan dan kenervous-an serta kebingungan atas tindakan apa yang musti kulakukan berikutnya.
muncullah gadis putih dengan rambut bob layer sebahu dari dalam toko .

" Tumben kesini,  cari apa? " tanya gadis berkaos putih dengan rok polka dot yang membuatnya nampak sangat anggun.
" Ehm,... Ini... Ehm.... Apa ya?  " tiba tiba  aku nge-blank tak tahu harus berkata apa. Mungkin karena terpseona aura kecantikan yang jarang kulihat.  Maria tak pernah berhias kala menemuiku,  maksudnya kala datang ke tempat kerjaku.  Namun kala dia sedang berjaga di toko mamanya waktu itu,  kulihat dia sedikit berhias dengan bedak tipis yang menutupi kulit sawo matangnya serta pulasan warna pink lembut di kedua pipi tirusnya makin membuatnya begitu menawan. Serta polesan lipstik pink soft yang membuatnya makin segar namun tak terlihat norak. 

" Hellow... Ditanya malah grogi.  Gak perlu terpesona okeh kecantikan miss Maria desviana yang menawan ini! " candanya sambil tersenyum usil namun justru membuatku terpaku. 

Tiba - tiba mami maria keluar dengan membawa sekotak besar barang-barang dagangan yang harus ditata di etalase.  Melihat mamanya duduk di toko sambil asyik menata barang,  tentu saja maria pun turut membantunya. 

Akupun menjadi kelu dan bingung harus mengucap apa. Akupun terlupa tujuan awalku adalah datang untuk bertemu Maria dan mengajaknya sekedar makan  di warung atau cafe deket rumah. Berkali kali aku ditanya Maria ada keperluan apa,  aku hanya terdiam dan bilang sebentar.  Masih lupa  Hingga datanglah pangeran penolongku,  teman sekerjaku yang kebetulan ada keperluan membeli pita kain ke tokonya datang.  

" Mbak cantik,  punya pita kain warna kuning buat tali pembatas buku skripsi gak? " tanya rudy temenku.
" oh iya,  ada mas.  Butuh berapa meter atau satu rol sekalian? " sahut gadis pujaanku dengan senyum ramahnya. 

" Satu rol sekalian aja mbak. " jawab temen ku yang berambut keriwul itu singkat.
" Ji,  kamu tadi cari apa?  Belum  diladenin ta sama anakku? " sapa ibu bertubuh tinggi putih  dengan hijab besarnya ala mama dede di acara talkshow.
Kaget dan kebingungan atas sapaan mama Maria sekaligus pemilik toko serba ada didekat tempat kerjaku. Aku pun langsung menyapa dia dan berusaha keluar dari suasana kikuk tersebut. 

" Rud,  kelamaan nungguin aku ya.  Sampai dijemput gini. Hehehhe.  Maaf yach kalau lama belikan pesanan si bos tadi.  Habisnya diajak bercanda sama Mbak Maria. " sahutku sambil menepuk pundaknya dan mengerling padanya pertanda agar ia mengiyakan ucapanku. 

" Oh gak apa -apa. Cuman tadi keburu ditunggu customer nya,  udah mau diambil laporan skripsinya. "
" oalah gimana sih maria itu,  aji minta pita daritadi kok gak diladeni malah sibuk ngobrol dan bantuin mamanya.  Maaf ya nak aji. " sahut ibu RT yang cukup tegas itu.
" nggak apa-apa bunda. Sudah biasa kok,  lagian juga gak diburu amat,  iya kan rud.... ?" Sambil kuinjak kakinya. 

" Aauuuwww.... Ehmmm.. Iya bu. " teriak rudy sedikit kesakitan.
" 5000 mas. " ucap maria singkat sambil menyodorkan pitanya.
" Mas Aji tadi jadinya apa?  " tanya maria singkat.
" ga jadi,  tadinya kesini karena disuruh beli pita tapi lupa dan sudah dibeli ama mas rudy nih.sudah ya mbak maria,  BU Rt,  kami pamit  yach. Makasih" terangku sambil menarik bahu rudy agar segera beranjak dari toserba itu. 

Rencanaku untuk mengajak Maria keluar pun gagal karena ketakutan ku yang berlebihan,  meski setelah kejadian itu aku menjadi bulan-bulanan rudy dan temen- temen lain di tempat percetakan seluas 4x10 meter itu.
Hingga detik ini,  aku masih menjadi pengagum rahasia dari nona manis yang usianya 3 tahun diatasku namun memiliki paras seimut ABG.

Selama 2 tahun aku hanya mampu menggoda dan bercanda dengannya tanpa berani serius mengucapkan perasaan terdalamku.  Kala aku benar-benar merindukannya namun dia tak ada keperluan ditempat kerjaku atau aku tak memiliki keperluan di tokonya,  maka hanya sebait kata rindu tak tersampaikan yang mampu kutorehkan diatas kertas putih. 

Wahai Gadis Pirang bermata sipit
Senyum riangmu sudah tertoreh dalam dinding hatiku
Paras anggunmu telah terbingkai rapi dalam imajiku
Suara gelak tawa khas mu sudah melekat di gendang telingaku

Bersanding denganmu dalam suatu senja Adalah impian terbesarku
Duduk bersama di hamparan pasir menatap sang Mentari yang mulai tertunduk malu

Mampukah imaji itu terwujud? 
Haruskah kulalui hari hanya dengan melihatmu dari jauh
Tak bisakah kutatap senyum indahmu live hanya berdua

Tak bisakah candaan kita menjadi ikatan serius? 
Relung jiwaku menggema kala mendengar suara merdumu
Nada falsku ingin kudendangkan tuk membuaimu dalam mimpi

Wahai kekasih pujaan
Ku kan selalu mengagumi dalam kejauhan
Sepanjang usiaku... 
Sepanjang nafasku

Salam sayang dariku 
Aji

Kamis, 03 Agustus 2017

Review Cerpen " Mata Elang Itu" by Anne

Okay guys,  kali  ini aku mau menulis tentang review karya tulis cerpen fiksi dari salah satu rekan di kelas fiksi slash satu komunitas penulis di Indonesia yaitu one day one post.

Gak perlu basa-basi (berlagak merapikan kacamata dan mengasah golok pembantaian...... Wkwkkwkwk), langsung aka yach reviewnya.

Judul.        : Mata Elang Itu
Penulis.    :  Anne Fariz
Genre.      :   Teenlit
Blog.         :   http://anefariz.com/fiksi/mata-elang-itu

Dari sisi judul sudah cukup bagus,  pandai memilih judul yang membuat orang penasaran untuk menguak isinya.  Selain itu juga cukup singkat dan iconic Serta mudah diingat.

Mulai berkenalan dengan alunan ceritanya,  kita disuguhkan hidangan teenlit alias kisah kehidupan remaja dengan seragam khas abu-abu putih. Biasanya penuh dengan kisah cinta dengan rasa malu-malu dan deg-deg'an.

Secara keseluruhan,  penulis ingin menceritakan Ersa sang tokoh utama yang sedang mengagumi seseorang namun dikarenakan suatu kelalaiannya, dia harus menanggung malu tak tertahankan di  depan kekasih idamannya kala dia dihukum.
Gaya bahasanya juga ringan dan  mudah dicerna karena yang  dituju adalah kalangan remaja.

Ide ceritanya sangat bagus dan menyimpan banyak konflik yang bisa dieksplorasi. 
Oh iya,  ada kejutan di akhir ceritanya.  Jadi jangan ragu untuk  membaca hingga akhir yach.

Cara menceritakannya teratur, berurutan dan tak meloncat sehingga memudahkan pembaca mengikuti cerita.  Detail penggambaran juga cukup.
Namun ada beberapa poin yang perlu diperbaiki dalam penuangan ide tersebut menjadi sebuah cerpen yang tertulis.

1. Inti konflik sebaiknya diletakkan diawal cerita untuk menarik rasa penasaran pembaca.
Misal.  Paragraf awal dibuat dengan menggambarkan kehebohan siswa dan guru kala Ersa pingsan di lapangan. Atau rasa malu yang ditanggung Ersa kala dihukum. Kemudian bisa di flash back ke kisah awalnya.

2. Penyebutan nama  tokoh yang berulang seharusnya bisa diminimalis dengan menyebutkan ciri atau karakter tokoh,  sehingga pembaca akan lebih mengenal dan mengenali tokoh sesuai dengan imaji penulis. Selain untuk menghindari penggunaan kata berulang dalam satu alinea.
Misal.  " kurang,  neng. " teriak pak sopir.
Itu adalah kata panggilan untuk kedua kalinya disebutkan.
Bisa dipermanis dengan kata.
" kurang,  neng. " sahut pria berkumis yang duduk dibalik kemudi angkot butut itu.

3. Pemilihan kata diusahakan lebih efisien,  jangan terlalu memboroskan kata agar tak terkesan belibet. Serta peletakan tanda baca koma yang kurang tepat atau bahkan ada yang berlebihan.
Ex.  Di saku depan tas tidak ada,  coba lagi di saku dalam tas...... Dst,  hingga semua isi... Dst,  namun tetap nihil,  topi... Dst.

4. Penulisan dialog harusnya dengan tanda "..." . Ada dialog Ersa meski dalam hati seharusnya diberi tanda atau dibuat menjadi tulisan miring.  Untuk membedakan dengan kalimat cerita atau kalimat keterangan .

Selebihnya aku suka dengan ide cerita,  konflik yang bisa digali dan kejutan dari sang penulis yang cukup  biking ngakak setelah dibikin klimaks tokoh yang sedang bermasalah.

Jadi mengingat masa cinta monyet di mass abu-abu putih.  ....... Wkkwkwk.
Sekian review Serta krisan yang bisa kusampaikan.  Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. 

Karena aku pun belum mampu menghasilkan tulisan yang bagus,  namun disini murni ini adalah pendapat professional selaku pembaca yang sok expert..... Wkwkkwk..

Udah yach....  Mau istirahat..... Dan bersibaku dengan selimut karena udah super dingin nih kotaku.... Suhunya bener- bener gak bisa dikompromikan.
See ya di tulisan selanjutnya. 

Salam literasi.

#onedayonepost
#tugas fiksi ke. 7

Sabtu, 29 Juli 2017

Ghost called writing block

Ghost called Writing Block

Di penghujung senja yang makin memerah disertai deburan ombak dari pantai lovina,  kira kira 200 meter dari bibir pantai berdirilah sebuah villa yang cukup tenang karena tak memiliki banyak kamar.  Hanya sekitar 5 kamar villa private dan sebuah Taman bersama yang cukup nyaman untuk bersantai di penghujung hari. 

Terhampar beberapa pohon rindang dengan rumput yang tertata rapi di bagian kiri jalan setapak menuju masing - masing kamar.  Sedangkan di sebelah kanan terdapat deretan bunga yang bermekaran namun tertata rapi di dalam pot bunga yang menemani perjalanan menuju kamar.  Tak lupa juga patung berarsitektur khas Bali siap menyambut kehadiran para tamu tepat di persimpangan pintu masuk setiap kamar villa. 

Kulihat ada sepasang kekasih berusia paruh baya bersama kak Putu staff villa ini sedang mengantar mereka menuju kamar villa Melati.  Akupun menyapa ramah Pria jangkung yang menurutku berotak cerdas yang nampak dari dahi lebarnya dan sedikit maju tersebut. 

" Sore kak Putu. " sapaku sambil melambaikan tangan.
" Eh,  nona berhijab sudah pulang.  Tidak ke pantai kah,  menikmati sunset Indah pantai lovina?  " tanyanya keheranan. 


" Enggak ah,  kemarin udah lihat lagian sekarang lagi bete. "  sahutku singkat.
Dia pun akhirnya menghampiriku yamg sedang duduk di teras berteman secangkir capuccino hangat yang tergeletak di atas meja berupa bongkahan kayu yang dipelitur ulang hingga nampak mengkilat dan serat kayunya masih jelas. 

" Kenapa bete nona manis?  Kalo beli gak salah ingat,  waktu check in kemarin siang , katanya lagi liburan dan mencari inspirasi biar bisa menelorkan karya tulis yach? " tanyanya keheranan. 

"Iya sih kak.  Tapi sudah berbulan-bulan gak bisa nulis,  kehabisan ide. " jawabku makin bete sambil menyeruput kopi hangatku.
Wajah keheranan nampak diwajahnya,  hingga akhirnya dia mulai duduk di kursi yang ada di sisi meja.  Seolah ingin berbagi cerita atau sekadar mencari teman bicara. 

" Maaf ya non,  saya boleh duduk kan. " pintanya padaku.
" Ok,  silahkan. Sambil menjadi temen ngobrolku biar ga bengong sendirian. " sahutku kegirangan.

" kalo beli gak paham nulis,  tapi bukankah ide bisa darimana saja yah.  Emang non Rika nulis apa sih?  Kalau boleh tahu. " tanyanya santun namun penuh tanya dan solusi yang ingin dilontarkannya. 

" Hehehe....  Nulis karya fiksi tapi gak jarang juga buat artikel non fiksi gitu. " jawabku sambil tersipu malu.
" Wuih.. Keren. Banyak baca kayaknya non Rika, buktinya bisa nulis cerita imajinasi sama nulis artikel.  " sahutnya terkagum. 

" hmm... Nggak juga sih,  dulu sering baca.  Kalau sekarang rada berkurang karena kesibukan yang terelakkan. " jawabku sedikit sedih.
" Loh,  kok gitu.  Mungkin itu penyebabnya non,  karena jarang baca akhirnya kurang asupan nutrisi.  " sahutnya santai. 

" Kurang Nutrisi?  Mana ada?  Penuh lemak nih . " sahutku keheranan.
" Nutrisi otak maksudnya non. " sahurnya singkat tapi cukup menghujam hatiku karena ucapan cowok pantai itu memang bener adanya. 

Brrrtt... Brrtttt

Suara itu menghentikan lamunanku atas ucapan kak Putu,  ternyata hpnya berdering pertanda pekerjaan sedang menantinya.
" Udah dulu ya non,  waktunya berburu pundi pundi emas. See you. " pamitnya buru-buru.

Akupun mulai merenungkan lagi ucapan staf villa itu,  meski sederhana namun aku akui itulah akar permasalahan yang sedang kualami.  Hampir 6 Bulan lamanya aku tak menghasikan tulisan berbobot,  meski banyak tulisan yang kutorehkan selama 1 tahun terakhir namun kurang sarat makna.  

Apalagi 1 bulan terakhir,  setiap aku mulai membuka laptopku.  Hanya satu atau 3 kata yang tertulis,  namun tak ada kata lanjutan yang teetorehkan lagi.  Hingga mata ini tersilaukan oleh layar putih yang menyilaukan .

Setelah menghabiskan tetesan capuccino, angin mulai terasa menusuk jantungku.  Kegelapan pun mulai terasa di sekitarku,  karena aku lupa menyalakan lampu di bebrapa sudut villaku. Entah tiba tiba kenapa aku merasa merinding dan ketakutan,  mungkin karena aku sendirian di villa inikah?

"Bukankah ini malam keduaku,  kenapa aku ketakutan begini." bisikku dalam hati.
akupun beranjak masuk ke villa dan mulai menyalakan musik dari laptop berstikerkan full hello kitty dan aku mulai duduk di tepi kolam renang mini yang berwarna biru dan berbentuk oval  sepanjang 3x1 meter. 

Berharap aku mendapatkan ide dengan membuka file microsoft word dengan tipe blank. 5 Menit  pertama kuhabiskan hanya memandang layar kosong , akhirnya aku kembali menyibukkan diri dengan bernyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar. 

 10 menit kemudian aku mulai melihat layar kembali,  terdiam beberapa waktu hanya makin merasakan kegalapan di sekitarku. Laptop seolah ingin ngambek dan marah kepadaku karena jarang sekali aku membelainya dengan menulis cerita hingga berjam-jam. 

Bahkan mungkin si kitty/ panggilan buat laptopku ingin menggetok kepalaku dengan badannya yang kekar biar ide dan kata-kata rontok berjatuhan dari kepalaku dan bisa segera dituangkan melalu deretani tuts empuknya. 

Writing block pasti menyerang penulis manapun. Tak terkecuali penulis newbie seperti aku. Namun aku tak mau terjebak terus-terusan, hingga aku putuskan untuk menempuh perjalanan wisata selama satu minggu di Bali.  

Aku mulai merenung kembali,  bagaimana caraku agar bisa keluar dari penyakit yang menghantuiku selama berbulan Bulan. Kumulai mencerna kata-kata kak Putu,  banyak baca lagi buat asupan alias nutrisi otak. Mungkin dengan begitu aku bisa mulai menemukan soul menulisku,  dengan mulai bercengkerama dengan barisan kata agar aku mulai jatuh Cinta lagi pada dunia penulisan. 

Sambil mendengar alunan acoustic cover song dari  J. FLO akupun  mulai membuka halaman mbah google dan mencari beberapa cerpen atau novel ringan untuk pemanasan otakku.  Anggap saja sebagai camilan ringan otakku. 

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul.  20.00 WITA.  Udara dingin pun mulai merasuk ke tulang rusuk hingga memaksaku untuk beranjak dari rumput di tepi kolam dan masuk ke kamar hangatku berteman selimut bermotif polkadot black and white. 

Sembari menyalakan TV,  aku pun mulai berimajinasi dan seperti mendapat sebuah potongan ide cerita yang ingin kutulis. Saat itu yang terlintas adalah menulis cerpen mengenai perjalanan wisata sepasang kekasih muda,  sosok yang tergambar adalah 2 tamu yang ada di villa sebelahku tadi sore. 

Tentu saja sudah aku persiapkan sedkit konflik sepanjang liburan mereka dan sedikit humor yang mereka rasakan selama liburan.  Tak lupa ciri khas ku yang suka memberikan konflik kejutan di pertengahan cerita yang sekaligus klimaksnya,  namun masih belum tergambar endingnya. 

Tanpa kusadari obrolan ringan yang berasal dari seseorang tak terduga menjadi obrolan cerdas yang cukup bermakna dan mengobati diri dari ketakutan akan hantu called writing block. 

Yah,  not too bad untuk tahap awal menyembuhkan diri dari hantu called writing block.  Dan sekarnag aku sudah mampu melanjutkan 3 novelku yang telah terbengkalai selama 1 tahun.  Serta menelurkan beberapa cerpen dan artikel pendek sebagai camilan untuk nutrisi kemampuan menulisku.

Itulah sedikit kisahku mengenai terlepas dari belenggu ketakutan atas momok bagi semua penulis. 

Thanks buat yang udah baca. 

Catch my dream

Penulis inspirator.  RHONDA BRYNE
Judul.  The Power

Cerpen. Catch my dream
By.  Riendra Siswin


Dikala semua harapan seolah sirna,  lilin lilin penerang kehidupan mulai padam.  Bahkan seberkas cahaya yang cukup jauh dalam lorong gelap hidupku pun perlahan makin tak nampak hingga kegelapan dan sepi yang terasa.

Bagi sebagian orang mungkin akan memilih mengakhiri hidupnya dalam himpitan kehidupan yang cukup keras ini.  Namun tidak bagiku,  meski saat ini tak tahu harus berbuat apa,  takkan kuakhiri hidupku secepat itu.  Mimpi yang meski  terlihat sangat impossible , akan kukejar hingga nafas terpisah dari ragaku.

Fachrudin Nur Cahyo adalah nama yang sudah melekat sejak nafas ini mulai terhembus di dunia. Terlahir di keluarga kelas bawah bukanlah pilihanku sewaktu masih menjadi roh bergentayangan . Namun aku tetap menjalani hidup yang sangat berat tersebut.  Sejak kecil aku hidup dengan ekonomi yang kekurangan bahkan tak jarang sehari bisa makan itu sudah berlimpah.

Bersyukur aku bisa menamatkan sekolahku hingga SLTA dengan uang yang aku peroleh dengan membantu tetangga berjualan jajan pasar.  Pagi buta aku membantu bu Surti membawakan kie ke pasar tradisional dekat rumahku.  Saat matahari mulai menampakkan kesombongannya,  akupun pamit untuk berangkat sekolah,  hingga sang Raja hari telah lelah dan mulai menyingsing ke barat aku pergi ke warung kopi yang ada di pelabuhan.

Semuanya berlalu begitu saja tanpa kusadari bahwa diri ini sudah menginjak usia 30-an.  Keinginan untuk membangun sebuah keluarga pun terlintas,  namun apalah daya diri yang serba kekurangan. 

Di suatu senja kala Mentari yang berwarna kemerahan mulai menunduk malu di pesisir pantai , dsertai hembusan angin yang sepoi namun menyejukkan raga yang lelah ini pun mulai membawa diri menuju imaji.

Sesaat terlukiskan sosok sang bidadari diawan namun sedikit tertutupir oleh segerombolan awan putih hingga aku tak mampu melihat wajah sang pelangi.  Dalam benakku terbesit rasa untuk menemukan sosok anggun seperti bidadari.  Namun tiba-tiba  anganku terbuyarkan oleh teriakan seorang ibu yang memanggil anaknya untuk pulang dan keluar dari hamparan pasir yang berbisik lembut saat terhempas sang angin.

Kala kubuka mata maka aku sadar semua itu adalah imajinasi kosong dan harus segera terlupakan,  namun saat kudengar suara alam dan sederetan semut yang sedang berkonvoi di atas Batang pohon kayu yang aku dudukin aku tertegun sejenak.  Kumulai bertanya,  seekor semut saja mampu membawa beban melebihi ukuran tubuhnya,  berarti nothing is impossible.

Disamping itu,  alam selalu selaras meski apapun yang terjadi.  Seburuk apapun kondisi alam,  maka alam akan memperbaiki dirinya.  Jadi kenapa aku yang memiliki akal dan segenap kehebatan yang tak dimiliki orang lain tak mampu memperbaiki ketidakseimbangan kehidupan.  Menurut buku yang pernah kubaca sewaktu sekolah yang mencuri waktu untuk menjejali otakku dengan buku di perpustakaan umum dulu,  disebutkan bahwa "Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi. "

Benar juga yach,  selama ini aku berpikir aku hanyalah anak pinggiran pantai yang terlahir dan akan mati disini dengan kondisi apa adanya. Makanya meski aku kerja mulai pagi hingga larut malam,  yang kudapatkan sebatas untuk sesuap nasi yang mengganjal perut mungilku yang hanya terbalut serpihan tulang dan kulit gelapku  saja.

Maka mulai detik ini harus kuubah pikiranku,  harus kulukis ulang imajinasi dalam alam mimpiku.  Agar aku mampu mengukir tinta emas dalam kanvas kehidupanku.  Dan sejak sore Indah itu,  rutinitasku tak berubah namun satu hal yang berubah yaitu mindset didalam otak yang terlindungi tulang keras bernama tempurung kepala.

Setelah beberapa waktu,  aku bisa memiliki sebuah hp android meski gak mahal namun cukup buat membuka mbah google yang kata orang serba tahu. Akupun mulai banyak membaca di penghujung hariku dan menambah cakrawala ilmu yang mungkin 10 tahun terakhir tertutup karena kesibukanku untuk mengais rejeki di muka bumi yang kata para filsuf era socratik (abad 5-6 SM)  itu datar,  namun terbantahkan setelah dibuktikan oleh aristoteles pada 330 SM bahwa bumi itu bulat. 
Pertemuan yang tak disengaja dengan seorang gadis cantik yang mempesona,  dengan helaian kain panjang yang membalut tubuh moleknya itu sungguh tak terlupakan.  

Dia mampu merubah segala cara pandangku pada dunia menjadi lebih baik.  Awalnya aku yang sangat apatis dengan orang lain yang kaya , mungkin karena kondisiku yang terpuruk.  Namun kala mengenalnya sungguh aku terkejut,  ternyata masih ada insan berstatus kaya itu memiliki hati lembut dan tak sombong.
Meski mengetahui siapa sebenarnya sosok diri yang kumuh ini,  tak sekalipun dia merendahkan martabatku.

Tak jarang aku berbagi sudut pandang dan filosofi kehidupan dengannya.  Hingga ia mampu merubah mindsetku yang berorientasi pada keseimbangan alam atau hukum law of attraction menjadi berorientasi pada hal religi.  Konsepnya tak jauh berbeda dengan buku yang pernah kubaca namun lebih berorientasi pada Sang Pencipta.  Akupun mulai mengikuti saran dan cara berpikirnya,  kehidupan memang tak membalik layaknya membalik tangan. Namun aku mulai rasakan ketentraman yang lebih mendalam bahkan dikala cobaan mulai banyak menderaku.

Dia selalu ada untuk mensupportku,  hingga diri ini tak kuasa untuk tak mengutarakan perasaan sayangku padanya.  Bahkan kuberanikan diri untuk datang menemui dia dan keluarganya.  Tanpa ditanya pun,  kalian tahu jawabannya.  Pastinya diri ini tak diterima,  namun bukan oleh gadis anggun yang selalu mendampingiku melainkan oleh segenap keluarga besarnya.

Apa aku menyerah?  Tentu tidak.  Aku telah mengalami intimidasi status sosial semenjak terlahir,  jadi itu sudah biasa bagiku.  Aku terus dan tetap menghampiri dan hadir di kehidupan wanita anggun bak seorang bidadari syurgawi yang menutupi kemolekannya dengan helaian busana syar'i.  Meski terkadang hatiku tersayat atas sikap dan ucapan keluarganya.  Apa aku marah?  Tidak.  Karena apa yang kita tarik itulah yang akan kita dapat.  Oleh sebab itu,  aku tak pernah bereaksi negatif dan gak bernegatif thinking terhadap gladys dan keluarganya.

Namun aku takkan menyerah berusaha memperoleh bidadariku dengan cara santun,  karena aku percaya bahwa " Hasil takkan pernah mengkhianati proses dan usahanya". Sampai darah tak sanggup mengaliri denyut nadiku dan nafas sudah tak mampu berhembus dalam ragaku,  maka saat itulah diriku akan menyerah untuk  menggapai mimpi dan imajiku.

Kamis, 20 Juli 2017

EGOIS

" Gunung Himalaya yang dikenal memiliki bunga es abadi saja masih bisa ditaklukkan! "
" Gurun Sahara yang dikenal gersang,  masih memiliki oase untuk melepas dahaga para pelancong! "
" Tak meleleh kah kebekuan hatimu atas segala sikap manisku? "
" Detik demi detik kulalui bersamamu demi menemukan kunci untuk membuka peti hatimu yang telah engkau kubur bersama masa lalumu! Apa itu bukan perjuangan? "
" Saat kulihat kedalam lautan hatimu,  kumulai temukan palung terdalam yang membuatmu begitu dingin pada sosok lelaki. Namun aku tak berpaling! "
" Berkali-kali ku menyelam hingga kehabisan nafas,  agar kumampu menarikmu ke tepi  pantai bernama Cinta.  Namun engkau masih tak mau melepas genggaman pada peti hitam itu.  Tak sadarkah kau,  itu makin menarikmu jauh terbenam dalam palung kegelapan hatimu! "
" Stop!  Jaga Ucapanmu!  Kau tak mengenalku,  don't judge! "
" Sombong sekali wanita itu,  sok kecantikan banget.  Kasihan dia,  sepertinya dia pria baik-baik. "
" Kalau aku jadi tuh cewek, kan kugenggam dia erat dan takkan melepaskannya. "
" So sweet banget dia,  layaknya pangeran berkuda putih dalam dongeng cinderella. "
" Sudahlah,  percuma berdebat.  Biarlah waktu yang akan menjawab.  Kau tak pernah menjadi diriku,  takkan mungkin kau memahami makna dibalik semua sikapku. "
" Bila esok kau masih menemuiku,  aku anggap kau memahamiku.  Bila tidak,  it's fine.  Aku paham dan mungkin ini pertemuan terakhir kita.  So, i wanna say thanks for everything and i apologize for all.  Selamat tinggal sayang. "
Kutinggalkan dia disana beserta seperangkat bunga dan pemain biola yang digunakannya untuk melamarku di malam valentine tahun ini. 
Sejak malam itu , aku tak pernah melihatnya lagi. Namun gara-gara semalam saat aku berjalan-jalan di toko buku dan kulihat buku bertuliskan " untuk Deviana! " dengan pengarangnya bernama Eka Kurnia Meghan. Aku terkejut.
Saat kubaca novel itu semalam suntuk,  aku tak kuasa menahan tangisku. Dia tidak menghilang namun membuktikan cintanya kepadaku.
Bahkan saat berada di halaman terakhir bukunya dia masih berusaha melamarku dan meninggalkan sebuah nomer untuk dihubungi.
" Hallo ... Ni'am.  " kutelepon dia dengan panggilan sayangku dulu.
" E... Ee.. Viii..... Kaukah ini? Kau sudah melihat perjuanganku untuk membuktikan cintaku? "
" Jadi,  sudah layakkah aku menemuimu dan melamarmu kembali? "
" Maafkan aku Ni'am,  I Love U too.  Dan aku bersedia !"

Review foundation budget 150k

Hai blogger readers, Aku bukan seorang beauty blogger profesional, namun cukup mencintai dunia makeup sebatas hobby dan kebutuhan haria...